Pages

Selasa, 05 Mei 2015



Ya Allah terimakasih engkau telah mempertemukan hamba dengan seseorang yang besar jasanya bagi hamba. Karena melalui perantaranya hamba bisa mengetahui apa itu arti sebuah kehidupan, berkat kata-kata beliau hamba bisa mendisiplinkan waktu, berkat tulisan-tulisan dari tangan beliau semangat untuk menggali ilmu selalu membara, dan hal yang paling terpenting adalah karena bertemu dengan beliaulah semangat hamba untuk beribadah yang mulai redup kini mulai kembali. Ya Allah terangkanlah hati hambamu ini, terangkanlah hati kedua orang tua hamba, terangkanlah hati beliau, dan terangkanlah hati orang-orang yang membaca tulisan ini, seterang engkau menerangkan hati kekasihmu Nabi Muhammad SAW..”


MATAHARI YANG MENYINARI JIWA YANG MULAI REDUP
Oleh: Nanang Sufratna
“kerjakan semua tugasmu dengan senang hati. Itulah modal terbesar untuk inspirasi dan kekuatanmu untuk berhasil” 
(Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag.)

Ya Allah terimakasih engkau telah mempertemukan hamba dengan seseorang yang besar jasanya bagi hamba. Karena melalui perantaranya hamba bisa mengetahui apa itu arti sebuah kehidupan, berkat kata-kata beliau hamba bisa mendisiplinkan waktu, berkat tulisan-tulisan dari tangan beliau semangat untuk menggali ilmu selalu membara, dan hal yang paling terpenting adalah karena bertemu dengan beliaulah semangat hamba untuk beribadah yang mulai redup kini mulai kembali. Ya Allah terangkanlah hati hambamu ini, terangkanlah hati kedua orang tua hamba, terangkanlah hati beliau, dan terangkanlah hati orang-orang yang membaca tulisan ini, seterang engkau menerangkan hati kekasihmu Nabi Muhammad SAW..”
           
Saya awali tulisan ini dengan kalimat Bismillahirraohmanirrohim,  karena saya tidak mau coretan saya ini tidak bernilai apa-apa disisi Allah Swt. Karena sebagimana sabda Rasulullah SAW. setiap perbuatan yang tidak didahului dengan Bismillah maka perbuatan tersebut tertolak ” (dalam hadits lain disebutkan ” perbuatan tersebut terasa hampa ” (maksudnya adalah sedikit barakah. Riwayat tersebut di shahihkan oleh Ibnu Shalah, dan Imam Nawawi dalam Al-Adzkar). Hadits tersebut memperingati kepada kita agar apapun urusan kita (yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan) haruslah mulai dengan Bismillahhirrohmanirrohim supaya setiap perkara yang kita lakukan tidak bernilai dengan sia-sia.

Guru baru dengan semangat yang baru
            Baiklah para pembaca yang dirahmati Allah swt, pada kesempatan ini saya akan menuliskan semua kesan-kesan yang saya alami ketika bertemu atau lebih tepatnya belajar pada orang yang sangat dihormati oleh seluruh orang yang ada difakultas Dakwah dan Komunikasi, baik dari kalangan para dosen-dosen yang lain smapai kedekan fakultas Dakwah dan Komunikasi, dari kalangan Mahasiswa-mahasiswa terutama di jurusan BKI dan KPI nama beliau tidak asing lagi terdengar di telinga-telinga mereka, bahkan para pegawaipun sangat menghormati beliau. Siapa lagi kalau bukan almukarrom prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.ag semoga Allah selalu memberi beliau kesehatan selalu agar beliau bisa beribadah kepada Allah SWT. Dengan khusyuk dan bisa berdakwah menyampaikan agama Allah SWT. Kepada orang yang sangat membutuhkannya.
            Saya mohon maaf kepada para pembaca apabila tulisan ini tidak menyerupai tulisan yang lainnya, harap dimaklumi karena pada saat saya di Madrasah Aliyah (setingkat dengan SMA) saya sangat tidak senang dengan namanya menulis. Saya juga bingung dengan tulisan saya ini mau dinamakan apa, artikel bukan, karya ilmiah juga bukan, tapi saya teringat dengan pesan Prof. Ali bahwa “apapun itu baik yang anda lihat, dengar, maupun yang dirasakan maka tulislah” pesan tersebut selalu terngiang didalam benakku ketika aku sedang minder ketika mau menulis. Seolah-olah prof. Ali langsung berbicara seperti itu, apabila aku minder dengan tulisanku sendiri. Selain itu kita harus memaksakan diri untu menulis sebagaimana perkataan beliau “semua tulisan yang saya buwat, itu bukan karena sukarela saya, akan tetapi itu merupakan keterpaksaan.”
Langsung saja, sebenarnya saya sangat bingung ketika menginjakkan kaki dibumi pahlawan ini, bumi yang terkenal dengan sebutan nama dari kedua hewan yaitu ikan Hiu dan Buaya, yang saya tidak tahu apakah hal tersebut kisah nyata atau hanya mitos belaka. Kembali ketopik, ya saya sangat bingung ketika sampai di kota Surabaya, mengapa demikikian? Hal ini disebabkan saya tidak mempunyai siapa-siapa di kota ini, saya tidak mempunyai keluarga, saudara, kenalan dan bahkan saya tidak tahu bagaimana belajar dengan guru-guru baru disini, karena yang terlintas di benakku ketika belajar nanti menggunkan bahasa Jawa yang pada saat itu saya tidak mengetahui sedikitpun mengenai bahasa Jawa tersebut.
            Akan tetapi ketika saya sampai di kota Surabaya, hal yang saya pikirkan tersebut sangatlah tidak sama dengan apa yang saya bayangakan. Ketika saya sampai saya disambut dengan baik oleh teman-teman PBSB. Ketika itu saya sedikit demi sedikit mulai akrab dengan teman-temanku yang baru kenal. Dua hari saya di Surabaya saya langsung berangkat ke Siduarjo untuk melaksanakan yang namanya matrikulasi. Oiya saya lupa menceritakan bahwah saya bisa lanjut kuliah disisni itu dikarenakan adanya program beasiswa yang dilaksanakn oleh kementrian agama yang disebut dengan PBSB (program beasiswa bagi santri berprestasi) jadinya segala sesuatu yang menyangkut dengan administrasi sudah diselesaikan oleh pemerintah. Yang salah satunya adalah matrikulasi tersebut yaitu tahap perkenalan dengan kampus dimana kita diterima sebagai mahasiswanya. Acara demi acara tersus berlanjut, hari demi hari terus kami lewati bersama karena kami melaksanakan matrikulasi selama sembilan hari.
            Tibalah pada hari dimana yang mengisi acara adalah Prof. Ali Aziz, yang dimana nama tersebut sudah sering saya dengar dari kakak kelas. Sehingga saya sangat penasaran dengan nama tersebut, karena pada saat pembukaan matrikulasi ada salah seorang kakak tingkat membicarakan tentang prof. Ali Aziz. Akan tetapi prof. Ali pada hari tersebut tidak bisa datang karena beliau ada urusan yang lebih penting. Sebenarnya pada hari tersebut kecewa karena prof. Ali yang sering disebut-sebut tersebut tidak bisa datang, akan tetapi kekecewaan saya tergantikan dengan narasumber-narasumber yang lain yang menurut saya hebat-hebat semua.
Hingga tibalah kabar bahwa pada hari Jumat prof. Ali bisa meluangkan waktu beliau untuk kami. Singkat cerita, ketika beliau datang pemateri pertama masi memberikan materi tentang perpustakaan yang jujur pada saat itu saya sangat mengantuk mendengarkan pembahasaan tentang perustakaan tersebut. Hingga sekitar sepuluh menit ketika prof. Ali aziz datang, pemeteri pertama selesai. Hingga giliran prof. Ali yang mengisi, subhanallah  kata-kata beliau sangat menyentu hatiku, pengetahuan beliau yang sangat luas membuat kami kagum terhadap beliau, kata-kata motivasinya membuat kami semua menjadi semangat untuk meraih apa yang kami cita-citakan.
Ada satu peristiwa yang mebuat saya lebih kagum terhadap beliau, yaitu beliau bisa menebak sifat seseorang. Ada teman saya yang beliau tebak sambil melihat tangan temanku beliau berkata “kamu kalau setiap mau makan tidak cuci tangan bukan?”, dan subhanaallah temanku tersebut dengan malu-malu dia menjawab “iya ustadz”, dan ada satu lagi teman perempuanku yang beliau tebak “kamu bisa masuk di PBSB ini bukan karena usahamu sendiri, melainkan berkat doa ibumu yang selalu bangun setiap malam mendoakanmu”. Setelah mendengarkan hal tersebut aku bertambah kagum terhadap beliau, aku teringat dengan kiyaiku yang berada di pondok dahulu.
Hidup itu koma bukan titik, jadi selama sebelum titik pasti dibelakang koma tersebut ada lanjutannya. Ini adalah kata-kata pertama yang saya dapatkan dari beliau, sebuah kata-kata yang ringan kalimatnya tapi berat dengan maknanya. Kata-kata tersebut bagiku merupakan pondasi kehidupan bagi semua orang yang ingin menjadi sukses. Jadi selama kita hidup didunia ini semua itu belumlah selesai, masi ada kelanjutannya yang pasti akan menjumpai titik. Ada dua hikamah yang dapat kita simpulkan dari kalimat tersebut, yang pertama kita tidak boleh menyerah dengan kehidupan ini, karena selagi kita hidup kita masi bisa memperbaiki diri untuk lebih baik dari sebelumnya. Yang kedua yaitu, walaupun kita masi ada kesempatan pada masa yang akan mendatang, akan tetapi kita harus mempersiapkan diri untuk menjumpai titik tersebut. Karena ibaratkan sebuah tulisan, titik merupakan akhir dari tulisan yang menentukan bagus atau tidaknya sebuah tulisan tersebut. Kalau titik tersebut titik pada tempatnya, maka tulisan tersebut akan kelihatan tidak bagus. Begitu juga dengan kehidupan apabila kita tidak mempersiapkannya, maka kita akan mengalami akhir dari kehidupan didunia ini dengan keburukan, atau sering disebut dengan su’ulkhotimah (akhir kehidupan yang buruk) semoga kita tidak termasuk golongan tersebut.
Pada saat itu juga prof. Ali mengatakan motto hidupnya, motto hidup yang sangat berbeda dengan orang-orang lain yang pernah saya jumpai. Motto hidup beliau cenderung bersifat tantangan  bagi dirinya sendiri, kalau orang-orang lain biasnya hanyalah bersifat penyemangat bagi kehiduppannya, seperti “barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan mendapatkannya” kalimat tersebut hanyalah penyemangat bagi kehidupan bagi pemiliknya tidaklah bersifat tantangan. Berbeda dengan motto hidup prof. Ali; “Saya berdoa tidak mau mati sebelum membahagiakan 1 milyar orang lain”, jadi beliau berdoa kepada Allah tidak mau meninggal dunia terlebih dahulu sebelum membahagiakan orang-orang lain baik di Indonesia maupun dari luar. Sebuah motto yang sangat menantang bagi pemiliknya, tapi kalau menurut pendapat saya, bahwa beliau sudah mencapai mottonya tersebut, buktinya beliau sudah berdakwah kemana-mana; Jepang, Afrika, London dan masi banyak tempat beliau berdakwah yang belum penulis sebutkan.
Setelah akhirnya sekitar satu jam setengah beliau mengisi acara, beliau mengakhiri pembicaraan beliau dengan kata-kata “minder itu kafir, jadi setiap orang yang minder hukumnya kafir” jadinya saya yang dahulunya sering minder di MA, kini sedikit demi sedikit berkurang bahkan sekarang sudah mulai berani bebicara didepan orang banyak, walaupun masi banyak gugupnya. Akhirnya beliau selesai menyampaikan materinya, setelah itu kami bersalaman dengan beliau terasa sangat berbeda bersalaman dengan beliau, setelah salaman selesai kami berfoto-foto dengan beliau, hal ini sangat berbeda dengan pamateri-pemateri yang lain, ya walaupun meraka juga tak kalah hebatnya dengan prof. Ali tapi tidak berfoto bareng setelah dengan kami ketika selesai acara. Selesai berpoto beliau langsung pamit dengan kami. Terimakasih pak prof. engaku telah merubah kehidupan kami yang dulunya minder sekarang sedikit demi sedikit sudah berani berbicara di depan. Terimaksih pak prof. engkau telah memompah semangat kami untuk menjadi orang yang sukses.

Tugas pertama dan yang paling utama
            Setelah sekitar satu minggu sesudah matrikulasi, setelah melalui berbagai acara yang sanagt sulit kamipun dibagikan ruangan kuliah yang ternyata saya satu kelas dengan teman-teman yang PBSB yaitu kelas C3. Kemudian kami juga dibagikan jadwal mata kuliah melalui “siakad, uinsby.ac.id” setelah melihat siakad kamipun merasa beruntung karena diantara empat kelas mata pelajaran ilmu dakwah hanya kelas kami yang diajar pak prof. Ali kami bersyukur kepada Allah karena bisa dipertemukan dengan pak prof. Ali lagi.
kamipun memulai perkuliahan yang pertama yaitu tanggal 01 September 2014 yang jatuh pada hari Senin. Saya yang belum pernah mencoba apa itu perkuliahan merasa bingung karena tidak tahu peraturannya bagaimana, karena perkuliahan sangat berbeda ketika saya sekolah di Madrasah Aliyah dahulu. Akhirnya dengan kerjasama dengan teman-teman, kami menemukan ruangan yang kami tempatkan yaitu diruangan D1 209 sebuah ruangan didekat tangga dilantai dua fakultas dakwah. Setelah kami masuk semua dikelas dan duduk menunggu seperti waktu di MA, kebetulan jam pertama yaitu matakuliahnya Prof. Ali Aziz setelah sekitar sepuluh menit menunggu akhirnya datang seorang dosen, akan tetapi bukan prof. Ali yang masuk. Timbul pertanyaan dibenakku, lho ini bukannya mata kuliah prof. Ali mengapa dosen ini yang masuk.  Ternyata beliau adalah asistennya pak prof.  Ali, beliau adalah pak Kholis Majid. Setelah perkenalan sekitar sepuluh menit, beliau menyampaikan bahwa prof. Ali tidak bisa masuk karena beliau sangat sibuk. Pak kholis memerintahkan salah satu teman kami untuk mengambil buku wajib khusus mata kuliah ilmu dakwah. Setelah sekitar lima menit teman kami datang sambil membawa setumpuk buku yang satunya tebal dan satunya sedang. Langsung dibagikan; kata pak kholis, ketika dibgikan saya penasaran dengan penulisnya, didalam benakku siapa yang menulis kitab setebal ini. Ketika saya melihat nama penulis kitab tersebut tertera namanya Prof. Dr. Moh. Ali Aziz M.ag, subhannallah ternyata  yang mengarang kitab tersebut adalah guru kami sendiri.
 Setelah buku panduan dibagikan, pak Kholis berbicara; “seperti biasa pada tahun-tahun yang lalu, setiap pertemuan pertama pada mata kuliah prof. Ali kalian akan mendapatkan tugas dari beliau.” Sambil merenung saya berkata dalam hati “aduh bagaimana ini, baru pertemuan pertama sudah mendapatkan tugas...”  ketika saya sedang melamun tugas tersebut, tiba-tiba sosok prof. Ali muncul dari balik pintu kaca kelas. beliau sangat berwibawa bagiku, buktinya ketika keles saya tadi agak ribut kini sepi bagaikan tidak ada kehidupan. Beliau langsung berbicara; “pak Kholis apakah tugas sudah dibagikan kepada anak-anak?” sudah Pak jawab pak Kholis, tetapi syarat-syaratnya belum dikasi tahu kepada mereka. Langsung ketika itu pak prof. Ali memberikan syarat-syarat untuk tugas beliau. Langsung saja secara saya dan teman-teman reflek berkata subhanallah mengapa tidak? Tugas beliau harus dikumpul satu minggu lagi, kemudian harus pakai power point yang ada ayatnya dan harus ada suaranya, terus makalahnya harus berbentuk buku dan sepuluh reprensi. Mengapa tidak pusing kepala, anak yang baru masuk kuliah perdana sudah mendapatkan tugas yang seberat itu. Walaupun tugasnya berat, tetapi saya tetap berusaha untuk tenang dan menerimanya dengan ikhlas, karena ada sebuh kata mutiara yang berkata “sesuatu yang berat jangan dipikirkan tapi dikerjakan” dan ada satu lagi yang membuat saya menjadi tenang “orang yang pintar bukan yang sering mendapat juara akan tetapi orang yang pintar adalah orang yang bisa keluar dari masalah yang ia hadapi.” Ia walaupun syarat-syaratnya sangat sulit, saya dan teman-teman berusaha untuk mengerjakannya semampu yang kami bisa. Setelah beberapa menit kami membahas tentang tugas akhirnya mencapai kesepakatan bahwa tugas harus dikumpul minggu yang akan datang.
Akhir dari mata kuliah beliau memompa kembali semangat kami, dengan cara memberi motivasi dan dengan kata-kata mutiara dari beliau, diantaranya beliau berkata; “kalau kalian mau membuat power point kalian harus memahami konsepdari konsep itu sendiri, dengan cara membaca minimal sebelas kali”. Dan adalagi yang lebih menyentuh hati yaitu “kalau kita tidak bisa memahami sebuah hal, kalin ulangi lagi tetapi tetap tidak bisa, maka kita sholat malam, sambil bersujud kepada memohon kepada Allah, niscaya kamu akan dibantu oleh malaikat untuk memahai hal tersebut.”  Pada saat itu beliau hanya memberikan motivasi yang bersifat cara bagaimana untuk menyelesaikan suatu masalah, kalau nalar kita tidak sanngup lagi untuk berpikir maka kita serahkan semuanya kepada yang maha mengatur seluruh alam ini yaitu Allah Swt..
Setelah selesai pemberian tugas dan pembagian kelompok, ternyata saya dapat satu kelompok dengan perempuan semua, saya yang dipondok dahulu sangat anti dengan perempuan sekarang malahan satu kelompok dengan perempuan. Akan tetapi tidak apa-apa karena ini bukan dipondok ini diperkuliahan kita harus menyesuaikan diri, sebagaimana pepatah mengatakan “dimana bumi dijunjung disitu bumi diinjak”. Pada saat itu kami dapat kelompok dengan urutan kedelapan yaitu membahas tentang pesan dakwah.
Setelah satu kelas mendapatkan tugas masing-masing, kamipun berniat untuk mengerjakan tugas tersebut dengan bersama-sama. Itulah enaknya kelas kami walaupun berbeda budaya dan suku akan tetapi semuanya ingin dilakukan bersama, sampai-sampai mengerjakan tugaspun ingin bersama. Kami berangkat keperustakaan secara bersama baik putra maupun putri, karena belum mempunyai kartu perpustakaan kami disuruh prof. Ali mintak surat dari Dekan Fakultas dakwah dan komunikasi terlebih dahulu. Setelah mendapatkan surat dari dekan, kamipun melanjutkan perjalan menuju keperpustakaan secara bersamaan. Setelah sampai diperpustakaan saya dan teman-teman langsung menghadap ibu yang mengurusi perpustakaan sambil menyerahkan surat dari fakultas. Tidak disangka surat itu ditolak oleh pengurus perpustakaan, begini katanaya; “apa ini? Kami tidak membutuhkan surat dari fakultas, menurut peraturan yang ada semuanya tidak boleh memasuki perpustakaan kecuali sudah memiliki kartu perpustakaan, jadi adek-adek semua jangan keperpustakaan dahulu ya, nanti kalau sudah oreantasi baru dikasi kartu sama pengurus.”  Dengan rasa kecewa saya dan teman-teman keluar dari perpustakaan. Kamipun langsung berangkat menuju kantor kepala jurusan, berhubung disana ada perpustakaan kecil. Setelah tiba disana kamipun membongkar semua buku-buku yang berada dirak, untuk menemukan buku yang berhubungan dengan dakwah. Akhirnya dengan usaha yang lumayan melelahkan, kami mendapatkan beberapa buku yang berhubungan dengan pembahasan kami.
Setelah mendapatkan refrensi kami mengerjakan tugas, yang dibagikan secara sub-sub pembahasan, saya mendapatkan sub pembahasan yang pertama yaitu jenis-jenis pesan dakwah. Setelah saya mengerjakannya hampir sekitar tiga lembar, karena mungkin kecapean karena melihat kondisi hampir semua mata kuliah memberikan tugasnya. Saya jatuh sakit dan muntah-muntah dikamar, kemudian saya dibawak kedokter untuk diperiksa. Kata dokternya mungkin kamu hanya kecapean hanya butuh istirahat dua atau tiga hari. Berhubung saya tidak bisa mengerjakan tugas dari prof. Ali jadinya yang mengerjkan semuanya teman satu kelompokku, untuk teman satu  kelompokku baik semua, jadinya saya tidak perlu repot-repot untuk mengerjakannya lagi, sub pembahasanku saya kasikan semua dengan teman-teman satu kelompok.
Singkat cerita ketika tugas semuanya sudah selesai, meskipun sudahnya harus dipaksa, kita harus menyetorkan tugas pada hari senin, batas terakhirnya yaitu tepat pukul 12.00 wib.. dan pada hari senin berikutnya kelompok satu harus mempersentasikan tugas yang sudah mereka buwat. Alhamdulillah kelompok satu dapat mempersentasikan tugasnya dengan baik, ya meskipun masi banyak kesalahan-kesalahan yang dapat dimaklumi oleh prof. Ali karena mereka adalah perdana. Bahkan beliau memberi semangat pada mereka dengan berkata “saya kurang yakin kemampuan kamu tidak hanya sebatas ini, saya yakin kemampuan anda melebihi yang sekarang” dengan tersenyum teman saya tersebut menjadi merah mukanya, saya yakin pada saat itu semangatnya untuk menjadi lebih baik pasti membara. Itulah sosok sang prof. Ali yang selalu menghargai pendapat orang lain, dan selalu memberi semangat bagi kami untuk mencapai kesuksesan.
Mingu demi minggu berlalu dan setiap kelompokpun mempersentasikan tugas yang mereka kerjakan, hingga tibalah kelompok kami yang mempersentasikan hasil tugas yang telah kami kerjakan. Dan pada saat itu, saya harus mempersentasikan dua tugas sekaligus, yang pertama mata kuliahnya pak prof. Ali dan yang kedua mata kuliah bahasa Indonesia. Karena berhubung itu adalah persentasiku yang pertama, saya harus memilih diantara keduanya antara pak prof. dan bahasa Indonesia dan pada saat itu aku memilih mendalami materi ilmu dakwah, dan untuk tugas bahasa Indonesianya saya sudah buwat makalahnya tapi yang persentasi teman-temanku yang satu kelompok, saya tidak ikut persentasi. Setelah pendalaman materi, tibahlah saatnya kami mempersentasikan hasil dari tugas kami. Pada saat itu kami maju tiga kelompok secara bersamaan, tiga kelompok ini harus diselesaikan dalam waktu satu setengah jam. Jadi kami ada orang sembilan harus membagi waktu tersebut dengan sebaik mungkin, dan tibalah giliran saya yang mempersentasikan sub pembahasannya, pada saat itu rasanya jantung rasanya mau lepas dari rongga badanku, keringat menjujur dari badanku bagaikan gerimis hujan, kaki rasanya goya sambil gemetaran, akan tetapi saya tetap bertahan sampai akhirnya saya bisa menjelaskan sub pembahsan saya.
Pada akhir pertemuan, seperti biasa pak prof. mengkritik tugas-tugas yang kami telah kerjakan supaya bisa lebih bagus lagi. Kebetulan tugas kami banyak mendapatkan kritikan dari prof. Ali, saya dan teman satu kelompok bersyukur karena dikritik. Itu bertanda pak prof. memperhatikan tugas yang kami buwat dan beliau ingin menjadikan kami lebih baik dari yang sekarang. Terimaksi pak prof. engkau telah merubah sifat-sifat kami yang dahulunya banyak main sekarang kami banyak juga bermain tetapi bermain dengan tulisan-tulisan, dan berkat engkau kami mengetahui hakikat dari tugas-tugas yang telah diberikan dosen kepada kami, berkat engkau kami tidak mengeluh dalam mengerjakan apapun. Terimaksi pak prof. jazakallah wabaraka fi ahlik wa malik.

Ulangan  yang membuat semangat naik turun
            Setelah selesai persentasi setiap kelompok, tibalah waktunya kami melaksanakan ujian setiap bab karena kata pak prof. Ali lebih baik kalian ujian perbab dari pada ujiannya satu kali dan pembahasannya seluruh bab, itu bisa membuwat kalian stres. Kalau dipikir-pikir ada benarnya juga, lebih baik kita ulangan sedikit demi sedikit dari pada satu kali materinya menumpuk, itu kurang efisien. Akan tetapi pada saat ulangan ini saya banyak yang kurang persiapan, karena saya banyak mengikuti kegiatan kampus setiap minggunya, jadi waktu membaca materinya kurang cukup, karena setelah pulang dari kegiatan sudah lemas, jadi banyak istirahatnya. Padahal kata pak prof. supaya bisa memahami suatu bacaan kita harus membacanya minimal sebelas kali. Tetapi saya hanya mampu  membacanya satu kali, semoga saja pada semester dua saya akan menjadi lebih baik dari pada semester satu.
            Berikut catan harianku ketika ulangan harian yang pertama;
           
Senin, 13 Oktober 2014         
Hari Senin tanggal 13 Oktober 2104 merupakan hari yang sangat sepesial bagiku. Ya, disamping hari tersebut merupakan hari kelahiran Rasulullah, pada hari tersebut juga aku mulai mencintai yang namanya tulis menulis. Selain itu, pada hari tersebut aku melaksanakan perdana bagiku di perkuliahan. Ya, pada hari tersebut aku melaksanakan ujian mata kulia Ilmu Dakwah mata pelajaran yang sangat spesial bagiku. Karena, gurunya sang motifator yang sangat hebat bagiku, yaitu Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.ag beliau sangat hebat dalam memberikan motivasi kepada anak didiknya. Pada hari tersebut aku sangat kurang percaya diri untuk melaksanakan ujian, disebabkan kurangnya persiapan dan ulangan yang perdana bagiku, dan akupun masi bingung bagaimana tekhnik ulangannya. Sehingga ulangan pada hari itu aku mendapatkan Nilai 6,8, akan tetapi aku berniat untuk memiliki nilai yang lebih bagus pada ujian berikutnya.
Pada ujian pertama ini yang mendapat nilai tertinggi Norma Majid yang berasal dari Sulawesi Selatan dan diapun mendapat hadiah dari prof Ali, hal yang demikian tersebut membuat semangat belajarku bertamabah. Tidak lupa juga yang mendapat nilai terendah juga mendapatkan hadiah dari prof Ali, pada hari itu yang  mendapat nilai terendah yaitu Syarif yang berasal dari maluku. Selain  memberikan hadiah kepada yang mendapat nilai terendah prof Ali juga memberikan motivasi kepada kami supaya semangat belajar kami bertambah. Diantara motivasi beliau”cintailah pekerjaan atau tugas anda itulah modal terbesar untuk kekuatan dan inspirasi anda untuk mencapi kesuksesan”. Ya, modal pertama yang harus kita gunakan untuk mencapai kesuksesan yaitu kita harus mencintai apapun yang kita anggap bermampaat. Selain itu Prof Ali juga mengatakan “sekalipun kamu tahu bahwa kamu mati besok hari, akan tetapi tetaplah anda tersenyum” beliau berpesan bahwa segala seseatu yang terjadi dimuka bumi ini adalah kehendak Allah yang ada makna dibalik kejadian tersebut, baik itu mati, sakit dan lain sebagainya.
Selanjutnya beliau mengatakan bahwa dengan usaha akan memunculkan dua perkara sukses atau gagal sebagaimana  perkataan beliau”dengan usaha anda bisa sukses dan gagal tapi jika anda peragu dan malas anda akan menjadi gagal”. Selanjutnya beliau berpesan “dinding baja yang ada didepan anda bukan penghalang cita-cita, melainkan hanya untuk menguji untuk keseriusan anda”. Walaupun ada dinding baja yang ada didepan kita, itu bukan sebuah rintangan yang akan menghalangi langkah kita untuk maju, akan tetapi itu hanyalah sedikit ujian yang menguji keseriusan kita. Untuk melewati dinding baja tersebut tergantung dengan kita bagaimana cara kita untuk melewati dinding tersebut, ada yang mencari jalan pintas, ada yang menghancurkan dinding tersebut. Tergantung dengan cara dan kemampuan kita masing-masing.
Itu merupakan salah satu catatan harianku yang saya tulis ketika pelajaran prof. Ali. Selanjutnya saya semangat untuk belajar, akan tetapi lagi-lagi ada halangan yaitu pada minggu itu kami melaksanakan Osmajur yang dilaksanakan selama tiga hari, jadinya kefokusanku untuk belajar menjadi berkurang, sehingga saya mendapatkan nilai yang sama seperti minggu yang lalunya. Akan tetapi prof. Ali mengatakan bahwa nilai saya istiqomah, karena tidak berkurang dan bertambah seperti teman-teman yang lainnya. Saya sangat heran pada nilai saya sendiri, mengapa banyak nilai yang sama dengan nilai yang lalunya, diantaranya banya yang 73 dan nilai 80, semoga saja semuanya ini ada hikmah dibaliknya.

Sifat-sifatnya yang mulia membuatku tergugah
            Setelah hampir lima Bulan belajar dengan prof. Ali saya bisa melihat sifat-sifat beliau yang sangat saya kagumi, diantara sifat-sifat yang saya amati ketika saya belajar yaitu:
  1. Disiplin
Diantara dosen-dosen yang mengajari kami dikelas C3, hanya beliau yang paling disiplin. Hal ini dapat dibuktikan dengan hadirnya beliau setiap pukul 09.30, hal tersebut beliau lakukan setiap hari Senin ketika beliau mau mengajari kami. Padahal jadwal beliau masuk pukul 09.45 akan tetapi beliau masuk 15 menit sebelum waktu yang ditentukan. Hal ini sangat sulit kita temukan diantara dosen-dosen yang lainnya. Ada cerita unik yang penulis alami bersama dengan teman-teman, hal ini karena terjadi kesalah pahaman antara mahasiswa dengan fakultas. Hal ini terjadi ketika satu hari selesai melaksanakan Idul Adha tepatnya hari Senin. Kami tidak tahu kalau pada hari itu kuliah seperti biasa, selain tidak tahu hal ini diperkuat dengan tanda-tanda tidak adanya mahasiswa yang berada di fakultas. Sehingga kami mengambil kesimpulan sendiri bahwa hari itu kegiatan perkuliahan diliburkan. Selain itu kami mengetahui kabar bahwa prof. Ali berada di Taiwan, kalau menurut logika tidak mungkin  beliau mau mengurusi kelas kami yang berada di UIN. Akan tetapi apa yang terjadi beliau memang tidak bisa datang untuk mengawasi ujian kami, tetapi beliau mengutus asistennya untuk mengawasi kami ujian dikelas. Berhubung kami tidak datang, jadinya asisten pak prof. tersebut menunggu kami dikelas hampir satu jam. Hal ini menjadi pelajaran bagi kami untuk mengetahui masalah harus secara mendetail, supaya tidak terjadi kesalah pahaman. Untungnnya pak Prof. tidak marah dengan kelas kami, malahan beliau memberiakn motivasi kepada kami untuk lebih rajin lagi kuliahnya.
Hal inilah yang menjadikan anak-anak didik beliau sangat hormat kepadanya, beliau berada di Hongkongpun masi memikirkan kami yang berada di Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa beliau sangat ingin anak-anak didiknya untuk menjadi orang yang sukses.
  1. Menaati peraturan
Selain beliau mendisiplinkan diri dan anak-anak didiknya, beliau mengajarkan kepada anak-anak didiknya untuk menaati peraturan yang sudah dibuwat. Salah satu contohnya ada teman saya yang main hp ketika pelajaran beliau sedang berlangsung beliau berkata dengan suara yang datar; “hei mas yang kamu pegang itu apa? Hp!! Kalau kamu main hp lebih baik kamu keluar dikelas ini”, untung saja pada saat itu beliau belum menjelaskan tentang peraturan tidak boleh main hp ketika pelajaran sedang berlangsung. Jadinya perbuatan temanku tersebut dimaafkan, kalau masi main hp, akan dikeluarkan dari pelajaran prof. Ali dan tidak boleh masuk kecuali sudah hafal al-Quran minimal satu juz.
Ada satu cerita lagi yang menarik, ketika beliau baru masuk dan langsung duduk dikursi. Beliau melihat dua temanku yang putra memakai baju kaos, seketika beliau menyuruh temanku tersebut untuk mengganti bajunya tersebut. Sebegitu telitinya beliau sampai urusan baju saja beliau tegur, padahal baju kedua temanku tesebut baju kaos yang berkerah. Kalau menurut peraturan dari fakultas itu dibolehkan, akan tetapi kalau menurut prof. Ali itu dianggap kurang sopan.
  1. Menghargai Waktu
Salah satu sifat yang beliau miliki yang membuat saya kagum dengan beliau adalah sifat yang menghargai waktu. Walaupun beliau memiliki jadwal yang sangat padat. Beliau bisa membedakan mana waktunya untuk istirahat, untuk olahraga, dan beribadah kepada Allah.
Salah satu contoh yang penulis lihat dengan mata kepala sendiri yaitu ketika ada pertemuan antara mahasiswa dengan dosen wali. Pada saat itu semua dosen duduk didepan mengahadap kepada mahasiswa, dan ketika itu pak prof. sedikit terlambat, sehingga beliau harus melewati dosen-dosen yang telah duduk. Saya yang duduk didepan terus memperhatikan beliau, dan subhanallah tidak lama ketika beliau sudah duduk, beliau langsung membuka buku dan membacanya. Seorang profesor masi membaca buku padahal suasana pada saat itu dalam keadaan ramai. Beliau tidak menghiraukan keramaian, beliau tersus membaca sampai ketika beliau disuruh sambutan oleh wakil dekan, baru beliau menutup bukunya.
  1. Tegas
Sifat yang khas dari beliau yaitu sifat yang tegas, sifat ini beliau tunjukan ketika beliau mengajar di kelas kami. Beliau sangat tegas ketika kelas kami ACnya rusak beliau langsung berpesan kepada TU untuk memperbaiki AC kelas tersebut apabila tidak di perbaiki maka mata kuliah ilmu dakwah akan diliburkan. Beliau tidak mau memasuki kelas yang panas, karena hal tersebut dapat menganggu kenyamanan dalam proses belajar mengajar.
Ada satu peristiwa yang penulis alami, ketika kami sedang melaksanakn ujian AC kelas kami mati, sehingga kelas terasa panas. Seketika itu beliau menyuruh kami yang putra keluar semua untuk mencari kipas angin. Saya dan teman-teman berpencar ada yang mencari ke asrama dan ada yang mencari ke TU, dan kebetulan saya ikut teman-teman mencari ke TU. Ketika sampai disana kami langsung melaporkan bahwa AC kelas kami tidak berfungsi, dan prof. Ali mintak kipas angin. Sekita itu pengurus TU langsung mencari kipas angin dan hasilnya kami mendapatkan dua kipas angin.
Begitu tegasnya beliau mengenai kelas yang panas saja beliau tidak mau mengajar, hal tersebut karena kesombongan beliau, akan tetapi belaiu hanya ingin ketika proses kegiatan belajar dan mengajar terjadi kenyamanan. Hal ini beliau tegaskan setiap kali pertemuan, jika kelas tersebut panas beliau tidak mau masuk.
  1. Tawaddu (rendah hati)
Sudah hampir empat bulan saya belajar dengan prof. Ali Aziz, saya baru mengetahui kalau beliau berangkat kekampus menggunakan sepeda motor. Padahal kalau beliau mau memakai mobil beliau mampu saja, akan tetapi beliau hanya memakai sepeda motor, hal ini cukup sudah menunjukkan bahwa beliau memiliki sifat tawaddu atau sering kita kenal dengan sifat rendah hati.
Itulah sifat-sifat dari prof. Ali yang saya amati ketika beliau mengajari saya, saya sangat yakin, pasti beliau memiliki sifat-sifat yang terpuji yang belum saya ketahui lebih mendalam.

Pertemuan terakhir yang sangat mengesankan
            Setelah kami selesai melaksanakan ujian perbab, beliau berjanji untuk membimbing kami melakukan terapi sholat bahagia. Kami semua senang mendengarnya karena siapa yang tidak tahu dengan terapi sholat bahagia, bahkan terapi tersebut sudah sampai keluar negeri. Dan hari ini kami satu kelas diterapi secara gratis oleh guru yang sangat kami hormati.
            Setelah beliau duduk kami diperlihatkan profil singkat beliau yang sangat menakjubkan bagi kami. Didalam profil tersebut beliau memperlihatkan tempat-tempat yang pernah beliau kunjungi. Kalau menurut ilmu yang kami pelajari dengan beliau, hal tersebut supaya memberi respek kepada mitra dakwah supaya tertarik untuk mempercayai apa yang akan kita samapaikan.
            Setelah memperlihatkan profilnya, beliau mengajak kami untuk pergi haji dengan cara perasaan saja. Ketika itu kami disuruh memejamkan mata dan membayangkan bersujud didepan ka’bah. Ketika kami bersujud, kami diberi 13 pertanyaan yang jawabannya kami cukup bilang ya alhamdulillah atau tidak astagfirullah. Setelah 13 pertanyaan tersebut dilontarkan, ternyata hampir semua jawaban yang berasal dari hatiku yaitu tidak astagfirullah. Tapi yang anehnya dari diriku, walaupun jawaban dari diriku banyak yang tidak, saya tidak menangis seprti teman-temanku, saya hanya merasa pilu karena sebagai manusia, saya telah melalaikan tugasku sebagai manusia yaitu beribadah kepada Allah.
            Pada saat itu kami diterapi sholat bahagia, kami diajarkan bagaimana caranya memintak ampunan kepada Allah, menyebutkan nikamat-nikmat yang telah Allah berikan, menyebutkan hajat masing-masing dari kita semua. Ketika pada sesi al-magfiroh (pengampunan) hampir semua teman-temanku termasuk saya, menangis menyesal dengan semua dosa-dosa yang telah kami lakukan. Setelah kami melakukan terapi sholat bahagia kamipun diperintahkan untuk saling bermaafan dengan sesama, rasanya pada hari itu saya merasa beda dengan hari-hari lain. Hari tersebut seperti hari baru, hari pembuka untuk lebih baik dari pada hari kemarin. Semoga saja kami dapat melaksanakan terapi sholat bahagia ini dengan istiqomah.
            Pada hari itu ada dua manfaat yang dapat saya ambil:
  1. Kami mendapat pelajaran, bahwa rencana Allah lebih baik dari pada rencana saya. Kalimat tersebut merupakan sebuah landasan bahwa segala sesuatu yang berada dimuka bumi ini adalah kehendak Allah, walaupun kita berencana akan tetapi Allah tidak mengizinkan, berarti Allah mempunyai rencana yang lebih baik dari pada rencana kita.
Intinya pada pembahasan ini penulis berpesan jangan mengeluh dengan setiap urusan yang tidak sesuai dengan kehendak kita, sebagaimana pesan prof. Ali kepada kami “kalau kalian mengeluh, berarti kalian mengeluh menentang kehendak Allah” semoga saja kita terhindar dari sifat mengeluh yang sangat dibenci oleh Allah. Sebagaimana ada hadis qudsi yang mengatakan “Rasulullah Saw. bersabda: Allah SWT. Berfirman,  kalau seandainya kamu mengeluh dengan apa yang aku tetapkan, maka pergilah kamu mencari tuhan yang lain yang bisa mengabulkan (memberikan) apa yang kamu kehendaki” jadi Allah tidak mengakui orang-orang yang mengeluh sebagai hambanya, Allah memerintahkan kepada hamba yang mengeluh untuk mencari tuhan yang lain selain dia.
  1. Pada hari tesebut saya mendapatkan hadiah dari prof. Ali, sebenarnya saya sudah lama ingin mendapatkan hadiah dari beliau akan tetapi tidak ada kesempatan. Akan tetapi pada akhirnya saya mendapatkan hadiah dari beliau. Dan tidakku sangka beliau memberi hadiah dengan apa yang kusenangi yang pertama beliau memberiku artikel yang berjudul The Progress Of Islamic Economic, artikel yang membahas tentang ekonomi, hal itu sesuai dengan cita-citaku yang ingin menjadi pengusaha yang hebat. Yang kedua yang beliau berikan yaitu sebuah kaset DVD yang berjudul tentang dakwah, hal tersebut juga sesuai dengan keinginanku, yang ingin menjadi muballigh (penceramah) yang terkenal sampai keluar negeri. Terimakasi pak prof. atas hadiahnya, sekarang saya bertekad untuk menjadi seperti apa yang pak prof. berikan kepada saya, yang pertama pengusaha yang kedua muballigh yang masyhur.

Sekilas kata-kata bijak yang beliau berikan kepada kami
            Berbicara mengenai kata-kata bijak tentunya seorang prof. Ali tidak akan lepas mengenai kata-kata bijak. Yaitu kata-kata yang dapat dijadikan motivasi kehidupan, karena keilhamannya mengenai suatu objek tertentu. Begitu juga dengan prof. Ali, hampir setiap hari pertemuan beliau selalu memberikan kata-kata bijak untuk memotivasi semangat kami. Akan tetapi dalam mengutip kata-kata bijak ini saya banyak mendapatkannya dari twitter karena kalau di twitter hampir setiap hari beliau meng-update kata-kata bijak, tidak seperti halnya di kelas yang hanya satu minggu sekali.
            Berikut kita simak kata-kata bijak yang mengandung motivasi yang berasal dari orang yang sudah mengalami kesuksesan didunia:

Pandanglah matahari sebelum orang lain memandangnya, niscaya kamu akan meraskan       kehangatannya”

“Setiap kesulitan ada pasti ada keindahan, tapi tidak semua orang yang bisa merasakan keindahan tersebut”

 “Berat, berat, tapi harus berlatih untuk mengucapakn, “demi Allah, saya ikhlas, ridla dan tidak mengeluh apapun keputusanmu”

“Diperlukan ikan yang kuat berenang melawan arus. Jika terapung saja, orang matipun bisa, anda harus menjadi ikan yang kuat melawan tantangan air”

 “orang bahagia mengingat-ingat dengan bangga sekecil apapun yang telah dimilikinya, sedangkan orang menderita mengingat-ingat apa yang belum dimilikinya”

“kedengkianmu memangkas sayap kesuksesanmu, allahmma thahir qulubana minaal hasad wan nifaq”

“wa amma bini’mati rabbika fa haddits, minder itu dosa. Tunjukkan kepada dunia bahwa Allah telah memberikan kemampuan untuk hal itu”

 “Jangan mengeluh, agar Allah tetap berkenan memandang wajahmu. Sekali engkau mengeluh, ia murka dan menyuruhmu mencari Tuhan alternatif yang bisa
                                                                    mengikuti kemauanmu”
“Orang buta tidak bisa menuntun orang buta. Maka jadilah orang cerdas agar bisa memimpin dengan misi besar”

“Jangan berharap ada sinar lampu yang sudah drop battery, sholat malamlah untuk charge hati agar dapat menyinari orang pada siang hari”

 “tembok baja didepan anda bukan penghalang cita-cita, melainkan hanya penguji keseriusan anda”

“kerjakan semua tugasmu dengan senang hati. Itulah modal terbesar untuk inspirasi dan kekuatanmu untuk berhasil”

“Tenang saja sekalipun teman-teman mengolok anda sebagai anjing, sebab anda tidak akan berubah menjadi anjing. Tapi jika dibalas, maka anda benar-benar berubah
                                                                         menjadi anjing”

“Berterima kasihlah kepada pengejek yang menyebut anda “anjing” sebab ia binatang paling setia pada pemiliknya”

“Kita ada bukan kemauan kita. Demikian juga kematian kita. Jadi bekaryalah lalu terimalah dengan senang apapun keputusannya”

 “Laut tak pernah mengeluh, apalagi berontak sekalipun setiap hari menjadi muara sungai yang penuh kotoran bahkan bangkai. Belajarlah kepadanya”

“Laut, engkau tetap asin sekalipun berbagai benda tenggelam didalamnya. Kita harus belajar istiqomah sepertinya”

 “Sujudlah yang lama setiap menjelang subuh. Nyatakan ikhlas tanpa mengeluh. Itulah doa yang paling ampuh”

“jika ukuran kebaikan adalah pemberian materi, maka orang miskin tidak akan menjadi baik selamanya”

“tidak perlu menunggu hujan redah. Belum tentu. Segera menarilah ditengah hujan dengan suka cita”

“ikan, kau hebat. Berapa tahun engkau bersatu dengan air asin, tetapi rasamu tetap tawar”
“Jika kamu ingin bersinar seperti matahari, pertama kamu harus terbakar sepertinya”
“Sekalipun esok engkau mati, tetap tersenyumlah, kekasimu sudah menanti”
“Sekalipun tembok baja didepan anda, tendanglah untuk menerobosnya”
“an-Nas ma’al ghany, semua orang mengaku saudara ketika anda kaya”
“senyummu adalah sedekahmu. Lets go before a mirror to see our face”
“orang digunung Himalaya bukan ada dengan tiba-tiba”

Mungkin banyak dari pembaca bertanya mengapa penulis mencantumkan kata-kata bijak yang berasal dari prof. Ali, tentunya penulis berharap dengan adanya kata-kata bijak tersebut dapat menambah motivasi kita dalam menjalani kehidupan. Selain itu, tentu saja para pembaca dengan intelenjensi yang tinggi bisa mengeluarkan kata-kata bijak. Kita yang telah menjadi dewasa dalam hidup dan telah menghadapi polemik kehidupan pasti bisa menciptakan kata-kata bijak yang ditunjukan untuk diri sendiri maupun orang lain yang berada di sekitar kita.

6 komentar:

  1. huhhhh... nanang, keren mantap, menginspirasikan: tulisannya ditingkatkan lagi nang, biar bisa lebih menginspirasikan orang banyak.. !!
    @koment blog.ku nang

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah inspiratif boy diawal aku sudah menitikkan air mata memang aku emnyadari tulisan yang didasari dari hati akan tampak lebih bermakna kalau hanya sekedar tulisan
    ana gg lihat semua tapi ana dapatkan kayak kata para dosen-dosen itu pemerkosaan kalimat cukup para dosen dan masih ada kata yang penulisannya salah kayak sampai smapai jadinya lebih diperhatikan bukan sekedar siap tapi tulisan juga mantap. thank u punya ku yah

    BalasHapus
  3. Subhanallah... begitu banyak org2 yang luar biasa yg ada di sekitar kita... harus pandai mengoptimalkan yaaahhh....

    BalasHapus
  4. tulisanmu udah bagus kawan. wawasan yang luas membuat tulisan menjadi berisi.. hanya perlu perbaikan dalam perbendaharaan katanya supaya lebih wow..
    terus berkarya dan berkontribusi pada dunia..

    BalasHapus
  5. bagus nang lanjutkan buat terobosan baru dan buat bangga kedua ortu dan kel mu tetap semangat dan jangan lupa kepada sesama temen seperjuangan tetap semangat

    BalasHapus
  6. bismillah
    melihat isi tulisan antum, kelihatannya antum punya potensi yang berbeda dalam membuat kesimpulan dan menuliskannya kembali dalam bahasa yang santai. makasih nanang, membaca tulisan antum menambah pengetahuan buat bila bagaimana cara embuat kesimpulan. keep spirit,,,

    BalasHapus

 
Blogger Templates