“Ya Allah
terimakasih engkau telah mempertemukan hamba dengan seseorang yang besar
jasanya bagi hamba. Karena melalui perantaranya hamba bisa mengetahui apa itu
arti sebuah kehidupan, berkat kata-kata beliau hamba bisa mendisiplinkan waktu,
berkat tulisan-tulisan dari tangan beliau semangat untuk menggali ilmu selalu
membara, dan hal yang paling terpenting adalah karena bertemu dengan beliaulah
semangat hamba untuk beribadah yang mulai redup kini mulai kembali. Ya Allah
terangkanlah hati hambamu ini, terangkanlah hati kedua orang tua hamba,
terangkanlah hati beliau, dan terangkanlah hati orang-orang yang membaca
tulisan ini, seterang engkau menerangkan hati kekasihmu Nabi Muhammad SAW..”
MATAHARI
YANG MENYINARI JIWA YANG MULAI REDUP
Oleh:
Nanang Sufratna
“kerjakan semua tugasmu dengan senang hati. Itulah modal
terbesar untuk inspirasi dan kekuatanmu untuk berhasil”
(Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag.)
“Ya Allah
terimakasih engkau telah mempertemukan hamba dengan seseorang yang besar
jasanya bagi hamba. Karena melalui perantaranya hamba bisa mengetahui apa itu
arti sebuah kehidupan, berkat kata-kata beliau hamba bisa mendisiplinkan waktu,
berkat tulisan-tulisan dari tangan beliau semangat untuk menggali ilmu selalu
membara, dan hal yang paling terpenting adalah karena bertemu dengan beliaulah
semangat hamba untuk beribadah yang mulai redup kini mulai kembali. Ya Allah
terangkanlah hati hambamu ini, terangkanlah hati kedua orang tua hamba,
terangkanlah hati beliau, dan terangkanlah hati orang-orang yang membaca
tulisan ini, seterang engkau menerangkan hati kekasihmu Nabi Muhammad SAW..”
Saya awali
tulisan ini dengan kalimat Bismillahirraohmanirrohim, karena saya tidak mau coretan saya ini tidak
bernilai apa-apa disisi Allah Swt. Karena sebagimana sabda Rasulullah SAW. “setiap
perbuatan yang tidak didahului dengan Bismillah maka perbuatan tersebut
tertolak ” (dalam hadits lain disebutkan ”
perbuatan tersebut terasa hampa ” (maksudnya adalah sedikit
barakah. Riwayat tersebut di shahihkan oleh Ibnu Shalah, dan Imam Nawawi dalam
Al-Adzkar). Hadits tersebut memperingati kepada kita agar apapun urusan kita
(yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan) haruslah mulai dengan Bismillahhirrohmanirrohim
supaya setiap perkara yang kita lakukan tidak bernilai dengan sia-sia.
Guru
baru dengan semangat yang baru
Baiklah
para pembaca yang dirahmati Allah swt, pada kesempatan ini saya akan menuliskan
semua kesan-kesan yang saya alami ketika bertemu atau lebih tepatnya belajar pada
orang yang sangat dihormati oleh seluruh orang yang ada difakultas Dakwah dan
Komunikasi, baik dari kalangan para dosen-dosen yang lain smapai kedekan
fakultas Dakwah dan Komunikasi, dari kalangan Mahasiswa-mahasiswa terutama di
jurusan BKI dan KPI nama beliau tidak asing lagi terdengar di telinga-telinga
mereka, bahkan para pegawaipun sangat menghormati beliau. Siapa lagi kalau
bukan almukarrom prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.ag semoga Allah selalu memberi
beliau kesehatan selalu agar beliau bisa beribadah kepada Allah SWT. Dengan
khusyuk dan bisa berdakwah menyampaikan agama Allah SWT. Kepada orang yang
sangat membutuhkannya.
Saya
mohon maaf kepada para pembaca apabila tulisan ini tidak menyerupai tulisan
yang lainnya, harap dimaklumi karena pada saat saya di Madrasah Aliyah
(setingkat dengan SMA) saya sangat tidak senang dengan namanya menulis. Saya
juga bingung dengan tulisan saya ini mau dinamakan apa, artikel bukan, karya
ilmiah juga bukan, tapi saya teringat dengan pesan Prof. Ali bahwa “apapun itu
baik yang anda lihat, dengar, maupun yang dirasakan maka tulislah” pesan
tersebut selalu terngiang didalam benakku ketika aku sedang minder ketika mau
menulis. Seolah-olah prof. Ali langsung berbicara seperti itu, apabila aku
minder dengan tulisanku sendiri. Selain itu kita harus memaksakan diri untu
menulis sebagaimana perkataan beliau “semua tulisan yang saya buwat, itu bukan
karena sukarela saya, akan tetapi itu merupakan keterpaksaan.”
Langsung saja,
sebenarnya saya sangat bingung ketika menginjakkan kaki dibumi pahlawan ini,
bumi yang terkenal dengan sebutan nama dari kedua hewan yaitu ikan Hiu dan
Buaya, yang saya tidak tahu apakah hal tersebut kisah nyata atau hanya mitos
belaka. Kembali ketopik, ya saya sangat bingung ketika sampai di kota Surabaya,
mengapa demikikian? Hal ini disebabkan saya tidak mempunyai siapa-siapa di kota
ini, saya tidak mempunyai keluarga, saudara, kenalan dan bahkan saya tidak tahu
bagaimana belajar dengan guru-guru baru disini, karena yang terlintas di
benakku ketika belajar nanti menggunkan bahasa Jawa yang pada saat itu saya
tidak mengetahui sedikitpun mengenai bahasa Jawa tersebut.
Akan
tetapi ketika saya sampai di kota Surabaya, hal yang saya pikirkan tersebut
sangatlah tidak sama dengan apa yang saya bayangakan. Ketika saya sampai saya
disambut dengan baik oleh teman-teman PBSB. Ketika itu saya sedikit demi
sedikit mulai akrab dengan teman-temanku yang baru kenal. Dua hari saya di
Surabaya saya langsung berangkat ke Siduarjo untuk melaksanakan yang namanya
matrikulasi. Oiya saya lupa menceritakan bahwah saya bisa lanjut kuliah disisni
itu dikarenakan adanya program beasiswa yang dilaksanakn oleh kementrian agama
yang disebut dengan PBSB (program beasiswa bagi santri berprestasi) jadinya
segala sesuatu yang menyangkut dengan administrasi sudah diselesaikan oleh
pemerintah. Yang salah satunya adalah matrikulasi tersebut yaitu tahap
perkenalan dengan kampus dimana kita diterima sebagai mahasiswanya. Acara demi
acara tersus berlanjut, hari demi hari terus kami lewati bersama karena kami
melaksanakan matrikulasi selama sembilan hari.
Tibalah
pada hari dimana yang mengisi acara adalah Prof. Ali Aziz, yang dimana nama
tersebut sudah sering saya dengar dari kakak kelas. Sehingga saya sangat
penasaran dengan nama tersebut, karena pada saat pembukaan matrikulasi ada
salah seorang kakak tingkat membicarakan tentang prof. Ali Aziz. Akan tetapi
prof. Ali pada hari tersebut tidak bisa datang karena beliau ada urusan yang
lebih penting. Sebenarnya pada hari tersebut kecewa karena prof. Ali yang
sering disebut-sebut tersebut tidak bisa datang, akan tetapi kekecewaan saya
tergantikan dengan narasumber-narasumber yang lain yang menurut saya
hebat-hebat semua.
Hingga tibalah
kabar bahwa pada hari Jumat prof. Ali bisa meluangkan waktu beliau untuk kami.
Singkat cerita, ketika beliau datang pemateri pertama masi memberikan materi
tentang perpustakaan yang jujur pada saat itu saya sangat mengantuk
mendengarkan pembahasaan tentang perustakaan tersebut. Hingga sekitar sepuluh
menit ketika prof. Ali aziz datang, pemeteri pertama selesai. Hingga giliran
prof. Ali yang mengisi, subhanallah kata-kata beliau sangat menyentu hatiku,
pengetahuan beliau yang sangat luas membuat kami kagum terhadap beliau,
kata-kata motivasinya membuat kami semua menjadi semangat untuk meraih apa yang
kami cita-citakan.
Ada satu
peristiwa yang mebuat saya lebih kagum terhadap beliau, yaitu beliau bisa menebak
sifat seseorang. Ada teman saya yang beliau tebak sambil melihat tangan temanku
beliau berkata “kamu kalau setiap mau makan tidak cuci tangan bukan?”, dan subhanaallah
temanku tersebut dengan malu-malu dia menjawab “iya ustadz”, dan ada satu
lagi teman perempuanku yang beliau tebak “kamu bisa masuk di PBSB ini bukan
karena usahamu sendiri, melainkan berkat doa ibumu yang selalu bangun setiap
malam mendoakanmu”. Setelah mendengarkan hal tersebut aku bertambah kagum
terhadap beliau, aku teringat dengan kiyaiku yang berada di pondok dahulu.
Hidup itu koma
bukan titik, jadi selama sebelum titik pasti dibelakang koma tersebut ada
lanjutannya. Ini adalah kata-kata pertama yang saya dapatkan dari beliau,
sebuah kata-kata yang ringan kalimatnya tapi berat dengan maknanya. Kata-kata
tersebut bagiku merupakan pondasi kehidupan bagi semua orang yang ingin menjadi
sukses. Jadi selama kita hidup didunia ini semua itu belumlah selesai, masi ada
kelanjutannya yang pasti akan menjumpai titik. Ada dua hikamah yang dapat kita
simpulkan dari kalimat tersebut, yang pertama kita tidak boleh menyerah dengan
kehidupan ini, karena selagi kita hidup kita masi bisa memperbaiki diri untuk
lebih baik dari sebelumnya. Yang kedua yaitu, walaupun kita masi ada kesempatan
pada masa yang akan mendatang, akan tetapi kita harus mempersiapkan diri untuk
menjumpai titik tersebut. Karena ibaratkan sebuah tulisan, titik merupakan
akhir dari tulisan yang menentukan bagus atau tidaknya sebuah tulisan tersebut.
Kalau titik tersebut titik pada tempatnya, maka tulisan tersebut akan kelihatan
tidak bagus. Begitu juga dengan kehidupan apabila kita tidak mempersiapkannya,
maka kita akan mengalami akhir dari kehidupan didunia ini dengan keburukan,
atau sering disebut dengan su’ulkhotimah (akhir kehidupan yang buruk)
semoga kita tidak termasuk golongan tersebut.
Pada saat itu
juga prof. Ali mengatakan motto hidupnya, motto hidup yang sangat berbeda
dengan orang-orang lain yang pernah saya jumpai. Motto hidup beliau cenderung
bersifat tantangan bagi dirinya sendiri,
kalau orang-orang lain biasnya hanyalah bersifat penyemangat bagi
kehiduppannya, seperti “barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan
mendapatkannya” kalimat tersebut hanyalah penyemangat bagi kehidupan bagi
pemiliknya tidaklah bersifat tantangan. Berbeda dengan motto hidup prof. Ali;
“Saya berdoa tidak mau mati sebelum membahagiakan 1 milyar orang lain”, jadi
beliau berdoa kepada Allah tidak mau meninggal dunia terlebih dahulu sebelum
membahagiakan orang-orang lain baik di Indonesia maupun dari luar. Sebuah motto
yang sangat menantang bagi pemiliknya, tapi kalau menurut pendapat saya, bahwa
beliau sudah mencapai mottonya tersebut, buktinya beliau sudah berdakwah
kemana-mana; Jepang, Afrika, London dan masi banyak tempat beliau berdakwah
yang belum penulis sebutkan.
Setelah
akhirnya sekitar satu jam setengah beliau mengisi acara, beliau mengakhiri
pembicaraan beliau dengan kata-kata “minder itu kafir, jadi setiap orang yang
minder hukumnya kafir” jadinya saya yang dahulunya sering minder di MA, kini
sedikit demi sedikit berkurang bahkan sekarang sudah mulai berani bebicara
didepan orang banyak, walaupun masi banyak gugupnya. Akhirnya beliau selesai
menyampaikan materinya, setelah itu kami bersalaman dengan beliau terasa sangat
berbeda bersalaman dengan beliau, setelah salaman selesai kami berfoto-foto
dengan beliau, hal ini sangat berbeda dengan pamateri-pemateri yang lain, ya
walaupun meraka juga tak kalah hebatnya dengan prof. Ali tapi tidak berfoto
bareng setelah dengan kami ketika selesai acara. Selesai berpoto beliau
langsung pamit dengan kami. Terimakasih pak prof. engaku telah merubah
kehidupan kami yang dulunya minder sekarang sedikit demi sedikit sudah berani
berbicara di depan. Terimaksih pak prof. engkau telah memompah semangat kami
untuk menjadi orang yang sukses.
Tugas pertama dan yang paling utama
Setelah
sekitar satu minggu sesudah matrikulasi, setelah melalui berbagai acara yang
sanagt sulit kamipun dibagikan ruangan kuliah yang ternyata saya satu kelas
dengan teman-teman yang PBSB yaitu kelas C3. Kemudian kami juga dibagikan
jadwal mata kuliah melalui “siakad, uinsby.ac.id” setelah melihat siakad
kamipun merasa beruntung karena diantara empat kelas mata pelajaran ilmu dakwah
hanya kelas kami yang diajar pak prof. Ali kami bersyukur kepada Allah karena
bisa dipertemukan dengan pak prof. Ali lagi.
kamipun memulai
perkuliahan yang pertama yaitu tanggal 01 September 2014 yang jatuh pada hari
Senin. Saya yang belum pernah mencoba apa itu perkuliahan merasa bingung karena
tidak tahu peraturannya bagaimana, karena perkuliahan sangat berbeda ketika saya
sekolah di Madrasah Aliyah dahulu. Akhirnya dengan kerjasama dengan
teman-teman, kami menemukan ruangan yang kami tempatkan yaitu diruangan D1 209
sebuah ruangan didekat tangga dilantai dua fakultas dakwah. Setelah kami masuk
semua dikelas dan duduk menunggu seperti waktu di MA, kebetulan jam pertama
yaitu matakuliahnya Prof. Ali Aziz setelah sekitar sepuluh menit menunggu
akhirnya datang seorang dosen, akan tetapi bukan prof. Ali yang masuk. Timbul
pertanyaan dibenakku, lho ini bukannya mata kuliah prof. Ali mengapa dosen ini
yang masuk. Ternyata beliau adalah
asistennya pak prof. Ali, beliau adalah
pak Kholis Majid. Setelah perkenalan sekitar sepuluh menit, beliau menyampaikan
bahwa prof. Ali tidak bisa masuk karena beliau sangat sibuk. Pak kholis memerintahkan
salah satu teman kami untuk mengambil buku wajib khusus mata kuliah ilmu
dakwah. Setelah sekitar lima menit teman kami datang sambil membawa setumpuk
buku yang satunya tebal dan satunya sedang. Langsung dibagikan; kata pak
kholis, ketika dibgikan saya penasaran dengan penulisnya, didalam benakku siapa
yang menulis kitab setebal ini. Ketika saya melihat nama penulis kitab tersebut
tertera namanya Prof. Dr. Moh. Ali Aziz M.ag, subhannallah ternyata yang mengarang kitab tersebut adalah guru
kami sendiri.
Setelah buku panduan dibagikan, pak Kholis
berbicara; “seperti biasa pada tahun-tahun yang lalu, setiap pertemuan pertama
pada mata kuliah prof. Ali kalian akan mendapatkan tugas dari beliau.” Sambil
merenung saya berkata dalam hati “aduh bagaimana ini, baru pertemuan pertama
sudah mendapatkan tugas...” ketika saya
sedang melamun tugas tersebut, tiba-tiba sosok prof. Ali muncul dari balik
pintu kaca kelas. beliau sangat berwibawa bagiku, buktinya ketika keles saya
tadi agak ribut kini sepi bagaikan tidak ada kehidupan. Beliau langsung
berbicara; “pak Kholis apakah tugas sudah dibagikan kepada anak-anak?” sudah
Pak jawab pak Kholis, tetapi syarat-syaratnya belum dikasi tahu kepada mereka. Langsung
ketika itu pak prof. Ali memberikan syarat-syarat untuk tugas beliau. Langsung
saja secara saya dan teman-teman reflek berkata subhanallah mengapa
tidak? Tugas beliau harus dikumpul satu minggu lagi, kemudian harus pakai power
point yang ada ayatnya dan harus ada suaranya, terus makalahnya harus berbentuk
buku dan sepuluh reprensi. Mengapa tidak pusing kepala, anak yang baru masuk
kuliah perdana sudah mendapatkan tugas yang seberat itu. Walaupun tugasnya
berat, tetapi saya tetap berusaha untuk tenang dan menerimanya dengan ikhlas,
karena ada sebuh kata mutiara yang berkata “sesuatu yang berat jangan
dipikirkan tapi dikerjakan” dan ada satu lagi yang membuat saya menjadi tenang
“orang yang pintar bukan yang sering mendapat juara akan tetapi orang yang
pintar adalah orang yang bisa keluar dari masalah yang ia hadapi.” Ia walaupun
syarat-syaratnya sangat sulit, saya dan teman-teman berusaha untuk
mengerjakannya semampu yang kami bisa. Setelah beberapa menit kami membahas
tentang tugas akhirnya mencapai kesepakatan bahwa tugas harus dikumpul minggu
yang akan datang.
Akhir dari mata
kuliah beliau memompa kembali semangat kami, dengan cara memberi motivasi dan
dengan kata-kata mutiara dari beliau, diantaranya beliau berkata; “kalau kalian
mau membuat power point kalian harus memahami konsepdari konsep itu sendiri, dengan
cara membaca minimal sebelas kali”. Dan adalagi yang lebih menyentuh hati yaitu
“kalau kita tidak bisa memahami sebuah hal, kalin ulangi lagi tetapi tetap
tidak bisa, maka kita sholat malam, sambil bersujud kepada memohon kepada
Allah, niscaya kamu akan dibantu oleh malaikat untuk memahai hal tersebut.” Pada saat itu beliau hanya memberikan motivasi
yang bersifat cara bagaimana untuk menyelesaikan suatu masalah, kalau nalar
kita tidak sanngup lagi untuk berpikir maka kita serahkan semuanya kepada yang
maha mengatur seluruh alam ini yaitu Allah Swt..
Setelah selesai
pemberian tugas dan pembagian kelompok, ternyata saya dapat satu kelompok
dengan perempuan semua, saya yang dipondok dahulu sangat anti dengan perempuan
sekarang malahan satu kelompok dengan perempuan. Akan tetapi tidak apa-apa
karena ini bukan dipondok ini diperkuliahan kita harus menyesuaikan diri,
sebagaimana pepatah mengatakan “dimana bumi dijunjung disitu bumi diinjak”.
Pada saat itu kami dapat kelompok dengan urutan kedelapan yaitu membahas
tentang pesan dakwah.
Setelah satu
kelas mendapatkan tugas masing-masing, kamipun berniat untuk mengerjakan tugas
tersebut dengan bersama-sama. Itulah enaknya kelas kami walaupun berbeda budaya
dan suku akan tetapi semuanya ingin dilakukan bersama, sampai-sampai
mengerjakan tugaspun ingin bersama. Kami berangkat keperustakaan secara bersama
baik putra maupun putri, karena belum mempunyai kartu perpustakaan kami disuruh
prof. Ali mintak surat dari Dekan Fakultas dakwah dan komunikasi terlebih
dahulu. Setelah mendapatkan surat dari dekan, kamipun melanjutkan perjalan
menuju keperpustakaan secara bersamaan. Setelah sampai diperpustakaan saya dan
teman-teman langsung menghadap ibu yang mengurusi perpustakaan sambil
menyerahkan surat dari fakultas. Tidak disangka surat itu ditolak oleh pengurus
perpustakaan, begini katanaya; “apa ini? Kami tidak membutuhkan surat dari
fakultas, menurut peraturan yang ada semuanya tidak boleh memasuki perpustakaan
kecuali sudah memiliki kartu perpustakaan, jadi adek-adek semua jangan
keperpustakaan dahulu ya, nanti kalau sudah oreantasi baru dikasi kartu sama
pengurus.” Dengan rasa kecewa saya dan
teman-teman keluar dari perpustakaan. Kamipun langsung berangkat menuju kantor
kepala jurusan, berhubung disana ada perpustakaan kecil. Setelah tiba disana
kamipun membongkar semua buku-buku yang berada dirak, untuk menemukan buku yang
berhubungan dengan dakwah. Akhirnya dengan usaha yang lumayan melelahkan, kami
mendapatkan beberapa buku yang berhubungan dengan pembahasan kami.
Setelah
mendapatkan refrensi kami mengerjakan tugas, yang dibagikan secara sub-sub
pembahasan, saya mendapatkan sub pembahasan yang pertama yaitu jenis-jenis
pesan dakwah. Setelah saya mengerjakannya hampir sekitar tiga lembar, karena
mungkin kecapean karena melihat kondisi hampir semua mata kuliah memberikan
tugasnya. Saya jatuh sakit dan muntah-muntah dikamar, kemudian saya dibawak
kedokter untuk diperiksa. Kata dokternya mungkin kamu hanya kecapean hanya
butuh istirahat dua atau tiga hari. Berhubung saya tidak bisa mengerjakan tugas
dari prof. Ali jadinya yang mengerjkan semuanya teman satu kelompokku, untuk
teman satu kelompokku baik semua,
jadinya saya tidak perlu repot-repot untuk mengerjakannya lagi, sub
pembahasanku saya kasikan semua dengan teman-teman satu kelompok.
Singkat cerita ketika
tugas semuanya sudah selesai, meskipun sudahnya harus dipaksa, kita harus
menyetorkan tugas pada hari senin, batas terakhirnya yaitu tepat pukul 12.00
wib.. dan pada hari senin berikutnya kelompok satu harus mempersentasikan tugas
yang sudah mereka buwat. Alhamdulillah kelompok satu dapat
mempersentasikan tugasnya dengan baik, ya meskipun masi banyak
kesalahan-kesalahan yang dapat dimaklumi oleh prof. Ali karena mereka adalah
perdana. Bahkan beliau memberi semangat pada mereka dengan berkata “saya kurang
yakin kemampuan kamu tidak hanya sebatas ini, saya yakin kemampuan anda
melebihi yang sekarang” dengan tersenyum teman saya tersebut menjadi merah
mukanya, saya yakin pada saat itu semangatnya untuk menjadi lebih baik pasti
membara. Itulah sosok sang prof. Ali yang selalu menghargai pendapat orang
lain, dan selalu memberi semangat bagi kami untuk mencapai kesuksesan.
Mingu demi
minggu berlalu dan setiap kelompokpun mempersentasikan tugas yang mereka
kerjakan, hingga tibalah kelompok kami yang mempersentasikan hasil tugas yang
telah kami kerjakan. Dan pada saat itu, saya harus mempersentasikan dua tugas
sekaligus, yang pertama mata kuliahnya pak prof. Ali dan yang kedua mata kuliah
bahasa Indonesia. Karena berhubung itu adalah persentasiku yang pertama, saya
harus memilih diantara keduanya antara pak prof. dan bahasa Indonesia dan pada
saat itu aku memilih mendalami materi ilmu dakwah, dan untuk tugas bahasa
Indonesianya saya sudah buwat makalahnya tapi yang persentasi teman-temanku
yang satu kelompok, saya tidak ikut persentasi. Setelah pendalaman materi,
tibahlah saatnya kami mempersentasikan hasil dari tugas kami. Pada saat itu
kami maju tiga kelompok secara bersamaan, tiga kelompok ini harus diselesaikan
dalam waktu satu setengah jam. Jadi kami ada orang sembilan harus membagi waktu
tersebut dengan sebaik mungkin, dan tibalah giliran saya yang mempersentasikan
sub pembahasannya, pada saat itu rasanya jantung rasanya mau lepas dari rongga
badanku, keringat menjujur dari badanku bagaikan gerimis hujan, kaki rasanya
goya sambil gemetaran, akan tetapi saya tetap bertahan sampai akhirnya saya
bisa menjelaskan sub pembahsan saya.
Pada akhir
pertemuan, seperti biasa pak prof. mengkritik tugas-tugas yang kami telah
kerjakan supaya bisa lebih bagus lagi. Kebetulan tugas kami banyak mendapatkan
kritikan dari prof. Ali, saya dan teman satu kelompok bersyukur karena
dikritik. Itu bertanda pak prof. memperhatikan tugas yang kami buwat dan beliau
ingin menjadikan kami lebih baik dari yang sekarang. Terimaksi pak prof.
engkau telah merubah sifat-sifat kami yang dahulunya banyak main sekarang kami
banyak juga bermain tetapi bermain dengan tulisan-tulisan, dan berkat engkau
kami mengetahui hakikat dari tugas-tugas yang telah diberikan dosen kepada
kami, berkat engkau kami tidak mengeluh dalam mengerjakan apapun. Terimaksi pak
prof. jazakallah wabaraka fi ahlik wa malik.
Ulangan yang membuat semangat naik turun
Setelah
selesai persentasi setiap kelompok, tibalah waktunya kami melaksanakan ujian
setiap bab karena kata pak prof. Ali lebih baik kalian ujian perbab dari pada
ujiannya satu kali dan pembahasannya seluruh bab, itu bisa membuwat kalian
stres. Kalau dipikir-pikir ada benarnya juga, lebih baik kita ulangan sedikit
demi sedikit dari pada satu kali materinya menumpuk, itu kurang efisien. Akan
tetapi pada saat ulangan ini saya banyak yang kurang persiapan, karena saya
banyak mengikuti kegiatan kampus setiap minggunya, jadi waktu membaca materinya
kurang cukup, karena setelah pulang dari kegiatan sudah lemas, jadi banyak
istirahatnya. Padahal kata pak prof. supaya bisa memahami suatu bacaan kita
harus membacanya minimal sebelas kali. Tetapi saya hanya mampu membacanya satu kali, semoga saja pada
semester dua saya akan menjadi lebih baik dari pada semester satu.
Berikut
catan harianku ketika ulangan harian yang pertama;
Senin, 13 Oktober 2014
Hari Senin tanggal 13 Oktober 2104
merupakan hari yang sangat sepesial bagiku. Ya, disamping hari tersebut
merupakan hari kelahiran Rasulullah, pada hari tersebut juga aku mulai
mencintai yang namanya tulis menulis. Selain itu, pada hari tersebut aku
melaksanakan perdana bagiku di perkuliahan. Ya, pada hari tersebut aku
melaksanakan ujian mata kulia
Ilmu Dakwah mata pelajaran yang sangat spesial bagiku. Karena, gurunya sang
motifator
yang sangat hebat bagiku, yaitu Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.ag beliau sangat
hebat dalam memberikan motivasi kepada anak didiknya. Pada hari tersebut aku
sangat kurang percaya diri untuk melaksanakan ujian, disebabkan kurangnya
persiapan dan ulangan yang perdana bagiku, dan akupun masi bingung bagaimana
tekhnik ulangannya. Sehingga ulangan pada hari itu aku mendapatkan Nilai 6,8,
akan tetapi aku berniat untuk memiliki nilai yang lebih bagus pada ujian berikutnya.
Pada ujian pertama ini yang mendapat
nilai tertinggi Norma Majid yang berasal dari Sulawesi Selatan dan diapun
mendapat hadiah dari prof Ali, hal yang demikian tersebut membuat semangat
belajarku bertamabah.
Tidak lupa juga yang mendapat nilai terendah juga mendapatkan hadiah dari prof
Ali, pada hari itu yang mendapat nilai
terendah yaitu Syarif yang berasal dari maluku. Selain memberikan hadiah kepada yang mendapat nilai
terendah prof Ali juga memberikan motivasi kepada kami supaya semangat belajar
kami bertambah. Diantara motivasi beliau”cintailah pekerjaan atau tugas anda
itulah modal terbesar untuk kekuatan dan inspirasi anda untuk mencapi
kesuksesan”. Ya, modal pertama yang harus kita gunakan untuk mencapai
kesuksesan yaitu kita harus mencintai apapun yang kita anggap bermampaat.
Selain itu Prof Ali juga mengatakan “sekalipun kamu tahu bahwa kamu mati
besok hari, akan tetapi tetaplah anda tersenyum” beliau berpesan bahwa
segala seseatu yang terjadi dimuka bumi ini adalah kehendak Allah yang ada
makna dibalik kejadian tersebut, baik itu mati, sakit dan lain sebagainya.
Selanjutnya beliau mengatakan bahwa
dengan usaha akan memunculkan
dua perkara sukses atau gagal sebagaimana
perkataan beliau”dengan usaha anda bisa sukses dan gagal tapi jika
anda peragu dan malas anda akan menjadi gagal”. Selanjutnya beliau berpesan
“dinding baja yang ada didepan anda bukan penghalang cita-cita, melainkan
hanya untuk menguji untuk keseriusan anda”. Walaupun ada dinding baja yang
ada didepan kita, itu bukan sebuah rintangan yang akan menghalangi langkah kita
untuk maju, akan tetapi itu hanyalah sedikit ujian yang menguji keseriusan
kita. Untuk melewati dinding baja tersebut tergantung dengan kita bagaimana
cara kita untuk melewati dinding tersebut, ada yang mencari jalan pintas, ada yang
menghancurkan dinding tersebut. Tergantung dengan cara dan kemampuan kita
masing-masing.
Itu merupakan
salah satu catatan harianku yang saya tulis ketika pelajaran prof. Ali.
Selanjutnya saya semangat untuk belajar, akan tetapi lagi-lagi ada halangan yaitu
pada minggu itu kami melaksanakan Osmajur yang dilaksanakan selama tiga hari,
jadinya kefokusanku untuk belajar menjadi berkurang, sehingga saya mendapatkan
nilai yang sama seperti minggu yang lalunya. Akan tetapi prof. Ali mengatakan
bahwa nilai saya istiqomah, karena tidak berkurang dan bertambah seperti
teman-teman yang lainnya. Saya sangat heran pada nilai saya sendiri, mengapa
banyak nilai yang sama dengan nilai yang lalunya, diantaranya banya yang 73 dan
nilai 80, semoga saja semuanya ini ada hikmah dibaliknya.
Sifat-sifatnya yang mulia membuatku
tergugah
Setelah
hampir lima Bulan belajar dengan prof. Ali saya bisa melihat sifat-sifat beliau
yang sangat saya kagumi, diantara sifat-sifat yang saya amati ketika saya
belajar yaitu:
- Disiplin
Diantara dosen-dosen yang mengajari kami dikelas C3,
hanya beliau yang paling disiplin. Hal ini dapat dibuktikan dengan hadirnya
beliau setiap pukul 09.30, hal tersebut beliau lakukan setiap hari Senin ketika
beliau mau mengajari kami. Padahal jadwal beliau masuk pukul 09.45 akan tetapi
beliau masuk 15 menit sebelum waktu yang ditentukan. Hal ini sangat sulit kita
temukan diantara dosen-dosen yang lainnya. Ada cerita unik yang penulis alami
bersama dengan teman-teman, hal ini karena terjadi kesalah pahaman antara
mahasiswa dengan fakultas. Hal ini terjadi ketika satu hari selesai
melaksanakan Idul Adha tepatnya hari Senin. Kami tidak tahu kalau pada hari itu
kuliah seperti biasa, selain tidak tahu hal ini diperkuat dengan tanda-tanda
tidak adanya mahasiswa yang berada di fakultas. Sehingga kami mengambil
kesimpulan sendiri bahwa hari itu kegiatan perkuliahan diliburkan. Selain itu
kami mengetahui kabar bahwa prof. Ali berada di Taiwan, kalau menurut logika
tidak mungkin beliau mau mengurusi kelas
kami yang berada di UIN. Akan tetapi apa yang terjadi beliau memang tidak bisa
datang untuk mengawasi ujian kami, tetapi beliau mengutus asistennya untuk
mengawasi kami ujian dikelas. Berhubung kami tidak datang, jadinya asisten pak
prof. tersebut menunggu kami dikelas hampir satu jam. Hal ini menjadi pelajaran
bagi kami untuk mengetahui masalah harus secara mendetail, supaya tidak terjadi
kesalah pahaman. Untungnnya pak Prof. tidak marah dengan kelas kami, malahan
beliau memberiakn motivasi kepada kami untuk lebih rajin lagi kuliahnya.
Hal inilah yang menjadikan anak-anak didik beliau sangat
hormat kepadanya, beliau berada di Hongkongpun masi memikirkan kami yang berada
di Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa beliau sangat ingin anak-anak didiknya
untuk menjadi orang yang sukses.
- Menaati peraturan
Selain beliau mendisiplinkan
diri dan anak-anak didiknya, beliau mengajarkan kepada anak-anak didiknya untuk
menaati peraturan yang sudah dibuwat. Salah satu contohnya ada teman saya yang
main hp ketika pelajaran beliau sedang berlangsung beliau berkata dengan suara
yang datar; “hei mas yang kamu pegang itu apa? Hp!! Kalau kamu main hp lebih
baik kamu keluar dikelas ini”, untung saja pada saat itu beliau belum
menjelaskan tentang peraturan tidak boleh main hp ketika pelajaran sedang
berlangsung. Jadinya perbuatan temanku tersebut dimaafkan, kalau masi main hp,
akan dikeluarkan dari pelajaran prof. Ali dan tidak boleh masuk kecuali sudah
hafal al-Quran minimal satu juz.
Ada satu cerita
lagi yang menarik, ketika beliau baru masuk dan langsung duduk dikursi. Beliau
melihat dua temanku yang putra memakai baju kaos, seketika beliau menyuruh
temanku tersebut untuk mengganti bajunya tersebut. Sebegitu telitinya beliau
sampai urusan baju saja beliau tegur, padahal baju kedua temanku tesebut baju
kaos yang berkerah. Kalau menurut peraturan dari fakultas itu dibolehkan, akan
tetapi kalau menurut prof. Ali itu dianggap kurang sopan.
- Menghargai Waktu
Salah satu sifat
yang beliau miliki yang membuat saya kagum dengan beliau adalah sifat yang menghargai
waktu. Walaupun beliau memiliki jadwal yang sangat padat. Beliau bisa
membedakan mana waktunya untuk istirahat, untuk olahraga, dan beribadah kepada
Allah.
Salah satu contoh
yang penulis lihat dengan mata kepala sendiri yaitu ketika ada pertemuan antara
mahasiswa dengan dosen wali. Pada saat itu semua dosen duduk didepan mengahadap
kepada mahasiswa, dan ketika itu pak prof. sedikit terlambat, sehingga beliau
harus melewati dosen-dosen yang telah duduk. Saya yang duduk didepan terus
memperhatikan beliau, dan subhanallah tidak lama ketika beliau sudah
duduk, beliau langsung membuka buku dan membacanya. Seorang profesor masi
membaca buku padahal suasana pada saat itu dalam keadaan ramai. Beliau tidak
menghiraukan keramaian, beliau tersus membaca sampai ketika beliau disuruh
sambutan oleh wakil dekan, baru beliau menutup bukunya.
- Tegas
Sifat yang khas dari beliau yaitu sifat yang tegas, sifat ini beliau
tunjukan ketika beliau mengajar di kelas kami. Beliau sangat tegas ketika kelas
kami ACnya rusak beliau langsung berpesan kepada TU untuk memperbaiki AC kelas
tersebut apabila tidak di perbaiki maka mata kuliah ilmu dakwah akan
diliburkan. Beliau tidak mau memasuki kelas yang panas, karena hal tersebut
dapat menganggu kenyamanan dalam proses belajar mengajar.
Ada satu peristiwa yang penulis alami, ketika kami sedang melaksanakn ujian
AC kelas kami mati, sehingga kelas terasa panas. Seketika itu beliau menyuruh
kami yang putra keluar semua untuk mencari kipas angin. Saya dan teman-teman
berpencar ada yang mencari ke asrama dan ada yang mencari ke TU, dan kebetulan
saya ikut teman-teman mencari ke TU. Ketika sampai disana kami langsung
melaporkan bahwa AC kelas kami tidak berfungsi, dan prof. Ali mintak kipas
angin. Sekita itu pengurus TU langsung mencari kipas angin dan hasilnya kami
mendapatkan dua kipas angin.
Begitu tegasnya beliau mengenai kelas yang panas saja beliau tidak mau
mengajar, hal tersebut karena kesombongan beliau, akan tetapi belaiu hanya
ingin ketika proses kegiatan belajar dan mengajar terjadi kenyamanan. Hal ini
beliau tegaskan setiap kali pertemuan, jika kelas tersebut panas beliau tidak
mau masuk.
- Tawaddu (rendah hati)
Sudah hampir empat bulan saya belajar dengan prof. Ali Aziz, saya baru
mengetahui kalau beliau berangkat kekampus menggunakan sepeda motor. Padahal
kalau beliau mau memakai mobil beliau mampu saja, akan tetapi beliau hanya
memakai sepeda motor, hal ini cukup sudah menunjukkan bahwa beliau memiliki
sifat tawaddu atau sering kita kenal dengan sifat rendah hati.
Itulah sifat-sifat dari prof. Ali yang saya amati ketika beliau mengajari
saya, saya sangat yakin, pasti beliau memiliki sifat-sifat yang terpuji yang
belum saya ketahui lebih mendalam.
Pertemuan terakhir yang sangat
mengesankan
Setelah
kami selesai melaksanakan ujian perbab, beliau berjanji untuk membimbing kami
melakukan terapi sholat bahagia. Kami semua senang mendengarnya karena siapa
yang tidak tahu dengan terapi sholat bahagia, bahkan terapi tersebut sudah
sampai keluar negeri. Dan hari ini kami satu kelas diterapi secara gratis oleh
guru yang sangat kami hormati.
Setelah
beliau duduk kami diperlihatkan profil singkat beliau yang sangat menakjubkan bagi
kami. Didalam profil tersebut beliau memperlihatkan tempat-tempat yang pernah
beliau kunjungi. Kalau menurut ilmu yang kami pelajari dengan beliau, hal
tersebut supaya memberi respek kepada mitra dakwah supaya tertarik untuk
mempercayai apa yang akan kita samapaikan.
Setelah
memperlihatkan profilnya, beliau mengajak kami untuk pergi haji dengan cara
perasaan saja. Ketika itu kami disuruh memejamkan mata dan membayangkan
bersujud didepan ka’bah. Ketika kami bersujud, kami diberi 13 pertanyaan yang
jawabannya kami cukup bilang ya alhamdulillah atau tidak astagfirullah.
Setelah 13 pertanyaan tersebut dilontarkan, ternyata hampir semua jawaban yang
berasal dari hatiku yaitu tidak astagfirullah. Tapi yang anehnya dari
diriku, walaupun jawaban dari diriku banyak yang tidak, saya tidak menangis
seprti teman-temanku, saya hanya merasa pilu karena sebagai manusia, saya telah
melalaikan tugasku sebagai manusia yaitu beribadah kepada Allah.
Pada
saat itu kami diterapi sholat bahagia, kami diajarkan bagaimana caranya
memintak ampunan kepada Allah, menyebutkan nikamat-nikmat yang telah Allah
berikan, menyebutkan hajat masing-masing dari kita semua. Ketika pada sesi
al-magfiroh (pengampunan) hampir semua teman-temanku termasuk saya, menangis
menyesal dengan semua dosa-dosa yang telah kami lakukan. Setelah kami melakukan
terapi sholat bahagia kamipun diperintahkan untuk saling bermaafan dengan
sesama, rasanya pada hari itu saya merasa beda dengan hari-hari lain. Hari
tersebut seperti hari baru, hari pembuka untuk lebih baik dari pada hari
kemarin. Semoga saja kami dapat melaksanakan terapi sholat bahagia ini dengan
istiqomah.
Pada
hari itu ada dua manfaat yang dapat saya ambil:
- Kami mendapat pelajaran, bahwa rencana Allah lebih baik dari pada rencana saya. Kalimat tersebut merupakan sebuah landasan bahwa segala sesuatu yang berada dimuka bumi ini adalah kehendak Allah, walaupun kita berencana akan tetapi Allah tidak mengizinkan, berarti Allah mempunyai rencana yang lebih baik dari pada rencana kita.
Intinya pada pembahasan ini penulis berpesan jangan mengeluh dengan setiap
urusan yang tidak sesuai dengan kehendak kita, sebagaimana pesan prof. Ali
kepada kami “kalau kalian mengeluh, berarti kalian mengeluh menentang kehendak
Allah” semoga saja kita terhindar dari sifat mengeluh yang sangat dibenci oleh
Allah. Sebagaimana ada hadis qudsi yang mengatakan “Rasulullah Saw. bersabda:
Allah SWT. Berfirman, kalau seandainya
kamu mengeluh dengan apa yang aku tetapkan, maka pergilah kamu mencari tuhan
yang lain yang bisa mengabulkan (memberikan) apa yang kamu kehendaki” jadi
Allah tidak mengakui orang-orang yang mengeluh sebagai hambanya, Allah
memerintahkan kepada hamba yang mengeluh untuk mencari tuhan yang lain selain
dia.
- Pada hari tesebut saya mendapatkan hadiah dari prof. Ali, sebenarnya saya sudah lama ingin mendapatkan hadiah dari beliau akan tetapi tidak ada kesempatan. Akan tetapi pada akhirnya saya mendapatkan hadiah dari beliau. Dan tidakku sangka beliau memberi hadiah dengan apa yang kusenangi yang pertama beliau memberiku artikel yang berjudul The Progress Of Islamic Economic, artikel yang membahas tentang ekonomi, hal itu sesuai dengan cita-citaku yang ingin menjadi pengusaha yang hebat. Yang kedua yang beliau berikan yaitu sebuah kaset DVD yang berjudul tentang dakwah, hal tersebut juga sesuai dengan keinginanku, yang ingin menjadi muballigh (penceramah) yang terkenal sampai keluar negeri. Terimakasi pak prof. atas hadiahnya, sekarang saya bertekad untuk menjadi seperti apa yang pak prof. berikan kepada saya, yang pertama pengusaha yang kedua muballigh yang masyhur.
Sekilas kata-kata bijak yang
beliau berikan kepada kami
Berbicara
mengenai kata-kata bijak tentunya seorang prof. Ali tidak akan lepas mengenai
kata-kata bijak. Yaitu kata-kata yang dapat dijadikan motivasi kehidupan,
karena keilhamannya mengenai suatu objek tertentu. Begitu juga dengan prof.
Ali, hampir setiap hari pertemuan beliau selalu memberikan kata-kata bijak
untuk memotivasi semangat kami. Akan tetapi dalam mengutip kata-kata bijak ini
saya banyak mendapatkannya dari twitter karena kalau di twitter hampir setiap
hari beliau meng-update kata-kata bijak, tidak seperti halnya di kelas
yang hanya satu minggu sekali.
Berikut
kita simak kata-kata bijak yang mengandung motivasi yang berasal dari orang
yang sudah mengalami kesuksesan didunia:
“Pandanglah matahari sebelum orang lain memandangnya, niscaya kamu akan
meraskan kehangatannya”
“Setiap kesulitan ada pasti ada keindahan, tapi tidak semua orang yang bisa
merasakan keindahan tersebut”
“Berat, berat, tapi harus berlatih
untuk mengucapakn, “demi Allah, saya ikhlas, ridla dan tidak mengeluh apapun
keputusanmu”
“Diperlukan ikan yang kuat berenang melawan arus. Jika terapung saja, orang
matipun bisa, anda harus menjadi ikan yang kuat melawan tantangan air”
“orang bahagia mengingat-ingat
dengan bangga sekecil apapun yang telah dimilikinya, sedangkan orang menderita
mengingat-ingat apa yang belum dimilikinya”
“kedengkianmu memangkas sayap kesuksesanmu, allahmma thahir qulubana minaal
hasad wan nifaq”
“wa amma bini’mati rabbika fa haddits, minder itu dosa. Tunjukkan kepada
dunia bahwa Allah telah memberikan kemampuan untuk hal itu”
“Jangan mengeluh, agar Allah tetap
berkenan memandang wajahmu. Sekali engkau mengeluh, ia murka dan menyuruhmu
mencari Tuhan alternatif yang bisa
mengikuti kemauanmu”
“Orang buta tidak bisa menuntun orang buta. Maka jadilah
orang cerdas agar bisa memimpin dengan misi besar”
“Jangan berharap ada sinar lampu yang sudah drop battery, sholat malamlah
untuk charge hati agar dapat menyinari orang pada siang hari”
“tembok baja didepan anda bukan
penghalang cita-cita, melainkan hanya penguji keseriusan anda”
“kerjakan semua tugasmu dengan senang hati. Itulah modal
terbesar untuk inspirasi dan kekuatanmu untuk berhasil”
“Tenang saja sekalipun teman-teman mengolok anda sebagai anjing, sebab anda
tidak akan berubah menjadi anjing. Tapi jika dibalas, maka anda benar-benar
berubah
menjadi anjing”
“Berterima kasihlah kepada pengejek yang menyebut anda
“anjing” sebab ia binatang paling setia pada pemiliknya”
“Kita ada bukan kemauan kita. Demikian juga kematian kita. Jadi bekaryalah
lalu terimalah dengan senang apapun keputusannya”
“Laut tak pernah mengeluh, apalagi
berontak sekalipun setiap hari menjadi muara sungai yang penuh kotoran bahkan
bangkai. Belajarlah kepadanya”
“Laut, engkau tetap asin sekalipun berbagai benda
tenggelam didalamnya. Kita harus belajar istiqomah sepertinya”
“Sujudlah yang lama setiap menjelang
subuh. Nyatakan ikhlas tanpa mengeluh. Itulah doa yang paling ampuh”
“jika ukuran kebaikan adalah pemberian materi, maka orang
miskin tidak akan menjadi baik selamanya”
“tidak perlu menunggu hujan redah. Belum tentu. Segera
menarilah ditengah hujan dengan suka cita”
“ikan, kau hebat. Berapa tahun engkau bersatu dengan air
asin, tetapi rasamu tetap tawar”
“Jika kamu ingin bersinar seperti matahari, pertama kamu
harus terbakar sepertinya”
“Sekalipun esok engkau mati, tetap tersenyumlah, kekasimu sudah menanti”
“Sekalipun tembok baja didepan anda, tendanglah untuk menerobosnya”
“an-Nas ma’al ghany, semua orang mengaku saudara ketika anda kaya”
“senyummu adalah sedekahmu. Lets go before a mirror to see our face”
“orang digunung Himalaya bukan ada dengan tiba-tiba”
Mungkin banyak
dari pembaca bertanya mengapa penulis mencantumkan kata-kata bijak yang berasal
dari prof. Ali, tentunya penulis berharap dengan adanya kata-kata bijak
tersebut dapat menambah motivasi kita dalam menjalani kehidupan. Selain itu,
tentu saja para pembaca dengan intelenjensi yang tinggi bisa mengeluarkan
kata-kata bijak. Kita yang telah menjadi dewasa dalam hidup dan telah
menghadapi polemik kehidupan pasti bisa menciptakan kata-kata bijak yang
ditunjukan untuk diri sendiri maupun orang lain yang berada di sekitar kita.
huhhhh... nanang, keren mantap, menginspirasikan: tulisannya ditingkatkan lagi nang, biar bisa lebih menginspirasikan orang banyak.. !!
BalasHapus@koment blog.ku nang
Alhamdulillah inspiratif boy diawal aku sudah menitikkan air mata memang aku emnyadari tulisan yang didasari dari hati akan tampak lebih bermakna kalau hanya sekedar tulisan
BalasHapusana gg lihat semua tapi ana dapatkan kayak kata para dosen-dosen itu pemerkosaan kalimat cukup para dosen dan masih ada kata yang penulisannya salah kayak sampai smapai jadinya lebih diperhatikan bukan sekedar siap tapi tulisan juga mantap. thank u punya ku yah
Subhanallah... begitu banyak org2 yang luar biasa yg ada di sekitar kita... harus pandai mengoptimalkan yaaahhh....
BalasHapustulisanmu udah bagus kawan. wawasan yang luas membuat tulisan menjadi berisi.. hanya perlu perbaikan dalam perbendaharaan katanya supaya lebih wow..
BalasHapusterus berkarya dan berkontribusi pada dunia..
bagus nang lanjutkan buat terobosan baru dan buat bangga kedua ortu dan kel mu tetap semangat dan jangan lupa kepada sesama temen seperjuangan tetap semangat
BalasHapusbismillah
BalasHapusmelihat isi tulisan antum, kelihatannya antum punya potensi yang berbeda dalam membuat kesimpulan dan menuliskannya kembali dalam bahasa yang santai. makasih nanang, membaca tulisan antum menambah pengetahuan buat bila bagaimana cara embuat kesimpulan. keep spirit,,,